Monthly Archives: April 2011

Kepedulian

Setelah mengadakan penjanjian untuk wawancara pada hari sebelumnya, saya mendatangi ke kediaman bapak Jarwi di Pasar Minggu.

saya : Assalamualaikum

Bpk Jarwi : Wa’alaikumsalam. Silahkan masuk.

saya : Sesuai dengan janji pada hari sebelumnya, saya hari ini akan mewancarai seputar kehidupan Bapak. Ada waktu kan Pak?

Bpk Jarwi : Oh, silahkan. Kebutulan ini hari minggu. Saya tidak bekerja pada hari minggu. Ya, paling nanti ada kerjaan untuk mengurusi operasional IARGA.

saya : begitu ya pak, ngomong-ngomong mengenai IARGA itu apa sih pak?

Bpk Jarwi : IARGA itu singkatan dari Ikatan Anak Rantau Gangmalang. Merupakan suatu perkumpulan sosial yang bertujuan untuk membantu mensejahterakan anggotanya yang merupakan orang-orang yang berdomisili di Jakarta, bisa pedagang, pegawai, atau yang lainnya.

saya : Lalu, taukah bapak asal mula terbentuknya perkumpulan ini?

Bpk Jarwi : Jadi begini, berawal dari kepedulian terhadap teman yang masuk rumah sakit, teman-teman yang merupakan anak rantau dari desa Gangmalang, mulai mengumpulkan dana untuk menyumbangnya. Hingga kemudian terlintas pikiran untuk mendirikan suatu perkumpulan yang dapat mengakomodir kejadian serupa. Selain itu, dalam perkembangannya Iarga pun menyediakan pinjaman untuk modal usaha kepada anggotanya. Ya begitulah, agar uang dapat berputar.

Read the rest of this entry

Iklan

Melankolis

Bicara tentang kebenaran, bicara tentang kebohongan, sepertinya takkan habisdemonstrasi3 cerita tentang itu. Dan berita pun tak henti-henti berteriak menyampaikan suatu yang tak jelas adanya. Mereka bertindak seperti tak punya etika, meski tidak semua demikian. Tapi kami pun punya hak atas manfaat yang kau kerjakan. Lalu mereka bicara tentang aspirasi rakyat, padahal tidak jelas apa yang ia sampaikan. Seperti mengarang dongeng saja. Kita seakan-akan diberi hak untuk berpendapat, tapi tak pernah di tulis dan dianggap tak ada. Mereka bukan dewa selalu benar dan kita bukan kerbau yang kau bohongi. Memang demikian jika bukan pemimpin yang pandai. Hal paling dasar saja tidak tahu. Yang mereka tahu hanya perut, tak peduli dengan yang lain. Mereka bicara tentang hukum, mereka bicara tentang kebaikan. Setidaknya itu yang tertuang dalam undang-undang, tapi entah mengapa. Yang paling dekat saja tak tersentuh, dan masih satu daratan. Mungkin cara berpikir mereka yang terlalu sempit. Tapi tak mengerti mengapa begitu, sedang mereka pernah dididik. Cuma pada kebenaran kita berharap, atau mungkin kebenaran hanya ada dilangit. Dan dunia hanyalah palsu.